Memilih Tenggelam

Penulis: Rahmat Hidayat

Memilih Tenggelam

Di antara riak yang merayu,

kuserahkan napas pada gelombang.

Bukan laut yang memanggil—

tapi sendu yang diam-diam

menjadi batu di dasar kalbu.


Di sini, langit hanyalah cerita

yang tertulis di punggung ombak.

Langit mencoba menggoda

untukku menggapai permukaan

tapi di kedalaman ini,

sunyi lebih lekat dari udara.


Aku tak lagi berdebat dengan pasir

yang selalu kabur dari genggaman.

Biarlah karang merajut kenangan

menjadi mahkota yang tenggelam.

Di sini, waktu pun terlipat:

detik-detik adalah ikan yang diam,

berenang dalam lingkaran tanpa tujuan.

Ada yang bertanya:

“Mengapa tidak berenang ke permukaan?”

Tapi bagaimana kujelaskan—

bahwa kadang,

menghirup kegelapan

lebih mudah daripada

memuntahkan cahaya

yang telah tertelan?

Laut tak pernah berjanji

akan mengembalikan apa yang hilang.


Tapi di dasar ini,

aku temukan bahasanya yang purba:

diam-diam, ia merangkul

segala yang tak lagi ingin

menjadi terapung.


Di sini,

di antara puing-puing kapal yang terlupa,

aku belajar:

tenggelam bukanlah kekalahan—

ia adalah cara lain

untuk menyepakati hidup,

tanpa harus menang.

Exit mobile version