Tanah Airku yang kian asing terasa. Indonesia Raya…. Sebuah nyanyian indah, Sementara di istana –Bangunlah Jiwanya… Bangunlah Raganya… Demi kantong-kantong kami
Mereka bilang gaji guru jadi beban negara Sambil mata mereka berbinar berbentuk rupiah Sedangkan “pengabdian” cuma di pidato upacara, Bersatu Kita Teguh hanya saat bagi jatah kursi dan proyek fana.
Lihatlah sang Pahlawan baru era ini : Jubahnya bersulam anggaran siluman, Tombaknya progam-progam beracun, Menusuk dada rakyat yang kian lesu.
Padamu Negeri… Kami berbakti….Rakyat berkeringat darah Derma mereka samakan dengan “pajak”, Namun rasanya seperti upeti Untuk istana megah dan pesta pora di ruang rapat Merah Putih berkibar gagah, Menjadi cadar penutup belatung keserakahan di bibir mereka
Hiduplah Indonesia Raya…. Nyanyian kita, Sementara di belakang, Indonesia Pusaka dikeruk dan dibabat katanya tak masalah
Dirgahayu mereka bilang…. Sedangkan rekening mereka penuh darah rakyat kecil Bendera dijadikan tameng, Di atas kemerdekaan yang kami rayakan dengan gigit jari, Mereka sambut dengan gelak tawa di pesta kemenangan palsu.







































































