SIDRAP – Satu bulan pertama kepemimpinan AKP Andri Kurniawan, STK, S.H., S.I.K., sebagai Kasat Reserse Narkoba Polres Sidrap ditandai dengan ritme kerja yang agresif.
Dalam kurun waktu tersebut, Satnarkoba Polres Sidrap berhasil mengungkap 38 tersangka dengan barang bukti 88 gram sabu-sabu dan 167 butir ekstasi.
Angka itu bukan hanya mencerminkan capaian pribadi Kasat yang baru. Lebih dari itu, angka tersebut menunjukkan adanya pola kerja tim yang mulai terbangun di satuan tersebut.
Kasat Baru, Ritme Baru
AKP Andri Kurniawan bukan nama baru di bidang reserse. Sebelum bertugas di Sidrap, perwira lulusan Akpol 2015 ini menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Makassar.
Pengalaman menangani perkara konvensional menjadi modal penting. Namun perkara narkotika memiliki karakter berbeda. Ada jaringan, pemasok, pengedar, pembeli, pola komunikasi, hingga jalur distribusi yang harus diurai.
Karena itu, kemampuan membangun tim menjadi sama pentingnya dengan kemampuan melakukan penangkapan. Dan di titik inilah gaya kepemimpinan Andri mulai terlihat.
Tidak Bekerja Sendiri
Seorang Kasat boleh memiliki strategi. Namun strategi tidak akan berjalan tanpa personel yang menerjemahkannya di lapangan.
Catatan 38 tersangka dalam satu bulan menunjukkan koordinasi antara pimpinan dan anggota berjalan efektif. Andri tidak bekerja sendiri. Ia berada di tengah tim.
Kekompakan ini krusial dalam pengungkapan kasus narkotika. Satu informasi kecil bisa menentukan arah pengungkapan. Satu nama bisa mengantarkan ke nama lain. Satu transaksi dapat membongkar jaringan yang lebih besar.
Penangkapan satu tersangka pun kerap menjadi awal, bukan akhir dari pengembangan perkara.
88 Gram Sabu dan 167 Butir Ekstasi
Barang bukti yang diamankan memberi gambaran tentang jenis ancaman narkotika di Sidrap. 88 gram sabu dan 167 butir ekstasi bukan sekadar angka dalam laporan.
Di balik setiap gram dan butir terdapat potensi penyalahgunaan yang harus diputus sebelum masuk lebih jauh ke masyarakat.
Karena itu, barang bukti tidak hanya dibaca sebagai ukuran keberhasilan. Ia juga menjadi pengingat betapa seriusnya pekerjaan rumah pemberantasan narkotika di Sidrap. Semakin aktif jaringan bergerak, semakin cepat pula aparat harus merespons.
Dari Makassar ke Sidrap
Sidrap menjadi panggung baru bagi Andri setelah sebelumnya bertugas di Polres Pelabuhan Makassar. Perpindahan itu membawa pengalaman dari lingkungan kerja yang berbeda.
Satu bulan pertama menunjukkan ia tidak butuh waktu lama beradaptasi. Ia memilih bergerak bersama anggota, bukan hanya memberi perintah dari belakang meja. Sebab pekerjaan reserse pada akhirnya ditentukan oleh apa yang terjadi di lapangan.
Rapor Awal, Bukan Garis Finish
Satu bulan memang belum cukup untuk menilai keseluruhan kinerja. Namun 38 tersangka, 88 gram sabu dan 167 ekstasi adalah catatan awal yang sulit diabaikan.
Yang menarik bukan hanya besarnya angka. Tetapi bagaimana angka itu lahir dari kerja tim.
Di satu sisi, masyarakat berharap semakin banyak jaringan narkotika yang diputus. Di sisi lain, tingginya angka pengungkapan mengingatkan bahwa tugas Satnarkoba masih panjang.
Keberhasilan terbesar bukan saat daftar tersangka semakin panjang. Keberhasilan terbesar adalah ketika rantai peredaran semakin pendek, jaringan sulit bergerak, dan narkotika sulit menjangkau masyarakat.
Untuk sementara, satu bulan pertama kepemimpinan AKP Andri Kurniawan memberi sinyal: kasatnya baru, tetapi timnya sudah menemukan ritme. Dan 38 tersangka menjadi penanda awalnya. ()*






































































